"Pembeli tidak membalas..." — Cara realistis mendekati banyak pembeli luar negeri sendirian
"Saya mengirim 100 email, tapi hanya 2 yang membalas." Bulan lalu, saya mendengar ini dari seorang staf penjualan di sebuah produsen suku cadang. Ini adalah hasil dari mengirim email ke daftar kartu nama yang dikumpulkan di pameran dagang.

"Pembeli tidak membalas..." — Cara realistis mendekati banyak pembeli luar negeri sendirian
"Saya mengirim 100 email, tapi hanya 2 yang membalas."
Bulan lalu, saya mendengar ini dari seorang staf penjualan di sebuah produsen suku cadang. Ini adalah hasil dari mengirim email ke daftar kartu nama yang dikumpulkan di pameran dagang secara membabi buta.
"Apakah cara kirimnya yang salah, atau waktunya yang tidak tepat... Sejujurnya, saya bahkan tidak tahu apa masalahnya."
Bagi Anda yang terlibat dalam penjualan ke luar negeri, saya rasa Anda pasti pernah merasakan hal yang sama.
Apakah wajar jika tingkat balasan pembeli luar negeri rendah?
Kesimpulannya, rendahnya tingkat balasan adalah hal yang lumrah.
Menurut "Survei Bisnis Luar Negeri Perusahaan Jepang Tahun Fiskal 2023" oleh JETRO, "menemukan pembeli atau mitra penjualan lokal" selalu menjadi tantangan utama bagi UKM. Singkatnya, menciptakan titik kontak awal adalah hambatan bagi banyak perusahaan.
Namun, ada alasan di balik "rendahnya tingkat balasan" yang bisa dibagi menjadi dua kategori:
① Targetnya tidak relevan Kartu nama dari pameran adalah catatan tentang "orang yang ditemui", bukan "orang yang tertarik dengan produk Anda". Jika Anda mengirim email dengan isi yang sama ke orang-orang dengan industri dan skala bisnis yang berbeda, tentu saja pesan tersebut tidak akan beresonansi.
② Isi email hanya berupa "jualan" Pembeli luar negeri menerima banyak sekali email setiap hari. Kalimat standar seperti "Kami adalah perusahaan ini, silakan hubungi kami jika tertarik" hampir pasti akan terabaikan.
"Terus mengirim ke target yang salah" adalah pemborosan terbesar
Saya ingin Anda berhenti sejenak dan berpikir: terus mengirim email saat tingkat balasan rendah bukan hanya tidak efisien, tetapi juga secara perlahan mengikis motivasi staf penjualan.
Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri (METI) dalam laporannya mengenai dukungan ekspansi UKM ke luar negeri, juga mencatat bahwa pergantian staf penjualan akibat frustrasi dapat menyebabkan stagnasi kegiatan ekspor. Ketika usaha tidak membuahkan hasil, motivasi organisasi untuk berinvestasi dalam penjualan luar negeri juga akan menurun. Saya telah melihat siklus buruk ini terjadi di beberapa perusahaan.
Jadi, apa yang harus diubah?
3 Perspektif untuk Mengubah Cara Pendekatan
1. Fokus pada "Keakuratan" daripada "Kuantitas"
Mulailah dengan meninjau siapa yang Anda hubungi.
Industri, skala, rekam jejak impor, dan posisi jabatan pembeli—hanya jika elemen-elemen ini terpenuhi, mereka bisa disebut sebagai "kandidat pembeli potensial". Khusus untuk pasar Asia Tenggara, struktur distribusi sangat berbeda di setiap negara. Di Thailand, toko ritel besar sangat kuat; di Vietnam, grosir adalah arus utama; dan di Filipina, distributor lokal memainkan peran penting. Tidak realistis jika menganggap "Asia Tenggara" sebagai satu kesatuan dan menyerangnya dengan daftar yang sama.
Seorang produsen perlengkapan yang menggunakan daftar pembeli kami untuk menyasar kategori grosir spesifik di Asia Tenggara mampu menghasilkan pertemuan bisnis dengan jumlah pengiriman yang lebih sedikit daripada sebelumnya. Mereka tidak percaya pada awalnya bahwa "mengurangi jumlah email bisa menghasilkan hasil yang lebih baik".
2. "Tingkat Pembukaan" dan "Tingkat Balasan" adalah Masalah Berbeda
Masalah subjek menentukan tingkat keterbukaan, sementara isi email menentukan tingkat balasan. Jika Anda mencampuradukkan keduanya, arah perbaikan tidak akan jelas.
Tips subjek yang efektif adalah menyertakan nama orang atau nama perusahaan serta angka atau fakta konkret. Subjek seperti "Tentang rekam jejak transaksi grosir makanan di Thailand" jauh lebih mungkin dibuka daripada "Salam perkenalan".
Simpan isi email agar tetap singkat. Desain yang tidak membuang waktu pembaca adalah kuncinya. Batasi dalam 3 paragraf, sekitar 200–300 karakter. Tuliskan hanya poin-poin seperti "Mengapa saya menghubungi Anda", "Apa yang ingin ditawarkan", dan "Apa langkah selanjutnya".
3. Jangan menganggap Follow-up sebagai tindakan "mengganggu"
Jika tidak ada balasan pada email pertama, banyak staf berhenti di sana.
Namun, di luar negeri, ada pemahaman umum bahwa "pembeli baru akan mengenali Anda setelah dikontak 2-3 kali". Laporan praktik JETRO juga menunjukkan bahwa beberapa kali kontak berpengaruh pada tingkat negosiasi bisnis.
Waktu tindak lanjut (follow-up) yang umum adalah 4-7 hari setelah email pertama. Poin pentingnya adalah jangan sekadar mengirim ulang email yang sama, tetapi gunakan "informasi tambahan" atau "pertanyaan".
Latar belakang mengapa "pendekatan massal secara mandiri" menjadi realistis
Beberapa tahun terakhir, semakin banyak alat yang dapat mengotomatisasi pencarian pembeli, pengiriman email, hingga tindak lanjut.
Dulu, semua proses dilakukan manual: membuat daftar → menulis email → mengirim → mengejar. Karena ada batasan pada apa yang bisa dikelola satu orang, 100 perusahaan adalah batas maksimal.
Sekarang, terdapat layanan yang mendukung pembuatan daftar kandidat pembeli, pembuatan teks email yang dipersonalisasi, hingga penjadwalan tindak lanjut dalam satu paket. Rinda adalah salah satunya, dan ada perusahaan yang benar-benar menggunakannya untuk "mendekati pembeli di 3 negara Asia Tenggara secara bersamaan".
Namun, alat hanyalah pendukung. Esensi penjualan tentang "apa yang ingin disampaikan kepada siapa" tetap harus dipikirkan oleh staf itu sendiri.
Pertanyaan Umum (Dari Staf Penjualan Luar Negeri)
Q1. Apakah bahasa Inggris saja cukup untuk kontak pertama?
Untuk tujuan Asia Tenggara, dalam banyak kasus bahasa Inggris sudah cukup. Namun, untuk Vietnam dan Indonesia, tingkat balasan cenderung meningkat jika menggunakan bahasa lokal. Pendekatan bertahap—mulai dari bahasa Inggris, lalu beralih ke bahasa lokal bagi mereka yang membalas—adalah cara yang realistis.
Q2. Mana yang lebih efektif, LinkedIn atau Email?
Itu tergantung pada industrinya. Untuk manufaktur dan grosir B2B, email cenderung lebih mudah membuahkan hasil. Gunakan LinkedIn sebagai alat riset untuk mengonfirmasi posisi dan latar belakang, lalu lakukan pendekatan sebenarnya melalui email.
Q3. Negara mana di Asia Tenggara yang harus dipilih untuk memulai?
Tergantung kategori produk, tetapi banyak perusahaan memulai dari Thailand atau Singapura. Thailand memiliki rekam jejak impor yang kuat di industri manufaktur dan makanan, sementara Singapura memungkinkan komunikasi yang mudah dengan lingkungan berbahasa Inggris. Pastikan untuk memeriksa tren impor di laporan JETRO berdasarkan negara.
Q4. Bagaimana cara mengarahkannya ke negosiasi setelah mendapat balasan?
Saat balasan diterima, setidaknya pihak lawan sudah memiliki minat. Cara tercepat adalah mengusulkan "penjadwalan pertemuan online" pada balasan pertama. Jika Anda hanya mengirim katalog dan berhenti di situ, komunikasi sering kali terputus. Jadikan kebiasaan untuk selalu menyertakan proposal penjadwalan, dan Anda akan melihat perubahan pada tingkat konversi pertemuan bisnis.
Kesimpulan—Tinjau "kepada siapa Anda mengirim" daripada "mengirim"
Jika Anda menemui jalan buntu dalam pendekatan pembeli luar negeri, penyebab utamanya biasanya bukan karena "kuantitasnya kurang", melainkan akurasi target dan konten yang rendah.
Lebih baik mengirim 30 email dengan 5 hasil daripada 100 email dengan 2 hasil; itu juga lebih baik bagi energi staf Anda.
Pertama-tama, tinjau email yang dikirim dalam 3 bulan terakhir dan periksa, "Apakah pihak tersebut benar-benar membutuhkan produk perusahaan saya?" Hal yang terlihat dari sana akan menjadi petunjuk untuk langkah selanjutnya.
Jika Anda ingin mengetahui lebih lanjut tentang cara pendekatan pembeli luar negeri atau tren pasar Asia Tenggara, silakan hubungi kami melalui halaman layanan atau LINE kami.
Rinda | B2B Global Sales AI Agent untuk Ekspansi Luar Negeri Untuk konsultasi dan pertanyaan, silakan hubungi kami melalui LINE kapan saja. Tambah Teman LINE
#PencarianPembeliLuarNegeri #ColdEmail #Ekspor #PenjualanAsiaTenggara #PenjualanLuarNegeri #BisnisEkspor #EkspansiUKM #PenemuanPembeli #PerluasanPasarLuarNegeri #PenjualanB2B
